Bar Wisuda, Meh Ngopo?

Judul postingan kali ini adalah Bar Wisuda, Meh Ngopo? –> Setelah Wisuda, Mau Ngapain?

Hal ini saya tulis karena pada saat ini saya berada dalam posisi itu. Dan memaknai momen wisuda tentu yang ada di hati saya adalah perasaan nano-nano alias campur-campur. Ada senang, ada sedih, ada takut, ada deg-deg an, ada bingung dan sebagainya.

Nah kali  ini, menyalin dari tulisan Rizqi Akbar Syah, Ketua Komunitas TDA Kampus Jogja  dari situs studyinjogja.com. Mungkin  ini juga mewakili perasaan para sarjana muda yang sedang di persimpangan mau kemana setelah wisuda. Monggo disimak.

Entah sudah berapa kali saya bertemu dengan orang yang baru wisuda, entah itu teman maupun orang yang baru saya kenal, mereka menghadapi satu tantangan klasik : Habis ini ngapain?

Saya tidak menyebutkan itu masalah, saya lebih suka memakai kata tantangan. Karena saya sendiri juga sering merasakan. What must i do after lulus sekolah? What must i do after lulus kuliah? Jawaban mayoritas pun simple : Kerja lalu nikah. Mau kerja atau buka usaha, atau lanjut S2, atau nikah muda, it’s oke. Mari kita diskusikan satu per satu :

1) Bekerja

Mahasiswa yang pikirannya jauh kedepan dan punya visi, biasanya sudah punya gambaran nanti setelah lulus mau kerja dimana, tinggal dimana, mau menetap di kota yang sama, atau merantau ke kota lain.Yang sangat disayangkan adalah, setelah sorak-sorak wisuda, terus kita bingung mau kerja dimana. Bingung disini bukan bingung karena tidak adanya lowongan kerja, tapi bingung dalam memilih pekerjaan itu sendiri. Biasanya, orientasi sarjana kalo cari kerjaan adalah sesuai dengan bidangnya saat kuliah.

Padahal, banyak kan orang diluar sana yang kerjaannya tidak sesuai dengan bidang waktu kuliah. Nggak usah mengedepanan gengsi, kalau ada lowongan, ambil aja. Kalau banyak mikir, akhirnya jadi kelamaan, dan virus galaupun melanda. Jadilah sarjana pengangguran.

2) Buka Usaha

Kendalanya biasanya ini : nggak ada modal, bingung mau bisnis apa, terus nggak percaya diri mau buka bisnis. Kita bahas satu per satu.

Nggak ada modal. Sebenernya berapa sih modal yang dibutuhkan? 1 juta? 2 juta? 5 juta? Atau cukup 500ribu aja? Kadang-kadang sering saya jumpai teman2 yang BELUM bisa menceritakan secara DETAIL tentang rencana bisnisnya tapi udah mengeluh nggak ada modal. Dia belum tahu berapa banyak modal yang diperlukan, tapi udah mengeluh nggak ada modal.

Konsep sudah ada, saya butuh modal awal 1,5 juta. Oke. Kalo begitu kan jadi jelas, hehehe. Selanjutnya , untuk mendapatkan modal 1,5 juta itu, kita punya 2 pilihan : cari partner bisnis yang punya duit 1,5 juta ATAU pinjam duit 1,5 juta ke orang lain. Partner bisnis itu sistemnya : dia urun modal, kita urun tenaga, hasilnya dibagi berdua.

Nah, gimana cara mendapatkan partner bisnis?Kenali dulu diri kamu siapa, apa kekurangan kamu? Kalau sudah, carilah partner yang saling melengkapi. Misalnya, kamu jago di administrasi dan keuangan, carilah partner yang jago di pemasaran dan suka ketemu banyak orang. Kamu sibuk kuliah dan ikut les, carilah partner yang nggak kuliah dan nggak sibuk. Kamu punya konsep usaha dan modal awal, tapi nggak punya modal buat kantor/ruko, carilah partner yang punya ruko/kantor. Kamu punya skill, tapi temanmu sedikit, carilah partner yang punya kenalan banyak.

Banyak orang bilang, partner bisnis yang hebat berbeda dengan teman atau sahabat yang baik. Partner bisnis hebat biasanya orang yang baru pertama kali bertemu kita lalu kerjasama bisnis. Takut tertipu dengan kenalan baru? Selidiki dulu dong track record nya, siapa saja teman dekatnya. Kalo udah merasa nyaman, to the point aja. Masih takut dibohongi? Inilah resiko bisnis. Nggak usah bisnis kalo takut kena tipu!

So, aktif di komunitas-komunitas bisnis seringkali membuka peluang kita untuk menemukan kriteria partner yang kita cari. Sering-seringlah bersilaturahmi dan selalu cari kenalan baru. Bener kata Nabi Muhammad, silaturahmi  itu mendatangkan rezeki.

Next, bingung mau bisnis apa. Kalau bingung, saran saya : temui orang yang sudah punya bisnis, lalu NGOBROL sepuasnya. Dimana bisa menemui orang yang udah punya bisnis? Di komunitas bisnis, di seminar bisnis, dan lain sebagainya. Jika ngobrol dengan satu orang belum ketemu ide, ngobrol dengan yang lain, lakukan terus. Lama-lama pasti ketemu ide itu. Lucunya, kadang-kadang ide itu muncul saat kita lagi berada di kamar mandi, atau ketika kita lagi sarapan pagi, lagi naik motor sendiri.

Ingat pepatah ini kan? Dekat dengan tukang minyak wangi, maka badan kita juga akan ketularan wanginya.

Last, nggak percaya diri mau buka bisnis. Yaudah, ini wajar. Mending cari kerja saja. Tapi inget, kalau kamu emang punya niat untuk punya usaha sendiri, diluar jam kerja, manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk belajar bisnis kecil-kecilan, membangun networking lewat komunitas, dan apapun itu : diluar jam kerja, many things can you do.FYI, kalau kita bertuhan, seharusnya kita berani dan percaya diri. Rejeki udah ada yang ngatur. Berarti kalau ada orang benar namun belum berani, maka ada keraguan didalam yang diyakininya. Nabi Muhammad men-sunah-kan kita untuk berbisnis. Dan Allah sangat support dengan orang yang mengikuti sunnah Nabi. Jadi, apa alasan kamu sampai sekarang nggak bisnis?

3) Lanjut S2

Wah, luar biasa kalo bisa lanjut S2.. Terus terang saya iri kalau lihat teman-teman yang bisa lanjut sampai S2.. Di kuliah pascasarjana S2 ini, alangkah baiknya jika kuliahnya dibiayai oleh penghasilan pribadi, bukan dari orangtua. Dan, sungguh disayangkan jika kuliah S2 itu hanya untuk ‘pelarian’ saja, “daripada nganggur..?”

4) Nikah Muda

JOSSS GANDOOSSS… Ini orang otak kanan! Pemberani! Saya tidak ada koment, jika sudah berani nikah muda, berarti sudah berani ambil resiko dan berani bertanggungjawab.

 

Menarik bukan tulisan beliau. Nah, mau pilih yang mana? hehe

Semua kembali ke para pembaca semua. Saya yakin semua pilihan terbaik bagi pembaca sekalian. Jangan takut untuk memilih karena setiap pilihan pasti ada konsekuensinya.

Hidup ini bagaikan soal pilihan ganda yang terdiri dari pilihan A,B,C,D, dan E.

Ibarat mengerjakan soal, kita harus memilih salah satunya.

Kadang kita bimbang, kadang kita ragu, sudah benarkah jawaban yang kita pilih tadi?

Kalo sudah begini tinggal berpasrah pada “sang pemegang kunci jawaban”

Berharap apa yang kita pilih sesuai dengan kunci jawaban.

Siapa “Sang pemegang kunci jawaban” dalam hidup ini?

ALLAH SWT.

Mungkin dari kita setelah wisuda pengen lanjut S2 dan S3.

Saya mengajak untuk senantiasa niat baik dan tak lupa usaha

Barengi dengan doa, semoga Allah sudah menyiapkan rejeki bagi kita

Gagal, itu ga jadi soal

Hasil biar ditentukan oleh Sang Pencipta

Jangan sampai kita penasaran dan enggan mencoba

Ilmu ibarat cahaya dalam gelap. Bisa dibayangkan kalau tidak ada cahaya? Jalan saja mungkin nabrak-nabrak. Ilmu adalah yang bekal kita mengarungi dunia ini. Dengan ilmu juga, kita bisa mengetahui benar salah.
Mengenai perintah menuntut ilmu, Allah SWT memerintahkan secara tersirat dalam wahyu yang pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, QS Al-Alaq ayat 1 – 5:

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Wahyu pertama ini, sebagai tanda pengangkatan Muhammad menjadi utusan Allah, memerintahkan “Iqro’= bacalah”. Meski tak secara langsung mengatakan “belajarlah”, namun perintah Allah dalam ayat ini untuk membaca adalah perintah tersirat kepada manusia untuk belajar, karena membaca merupakan salah satu cara untuk belajar. Membaca yang dimaksudkan disini tak sekedar membaca buku atau materi pelajaran, tetapi juga bermakna sebagai perintah untuk membaca dan memahami tanda-tanda kebesaran Allah.
Tidakkah kita sadari bahwa wahyu pertama ini, yang memerintahkan untuk membaca mengandung makna yang luas tentang pentingnya belajar? Allah tidak menurunkan wahyu pertama berupa perintah untuk shalat, puasa, sedekah, zakat dan sebagainya, tetapi perintah “Iqro’ = bacalah” yang dapat kita tafsirkan sebagai perintah untuk belajar. Ini menunjukkan bahwa sebelum kita beramal, kita wajib berilmu, yang insya Allah akan mengantarkan pada kebahagiaan dunia akhirat.

“Tuntutlah ilmu walaupun di negeri China karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka pada penuntut ilmu karena ridha terhadap ilmu yang dituntutnya.’ (HR ibnu Abdi Al-bar)

Kadang saya sempat berpikir, mengapa Cina? Bukan Amerika, Inggris, Arab dan lainnya? Tapi kalau dilihat sekarang ini, memang benar kita mungkin harus belajar sampai Cina. Negara ini berkembang pesat dalam segala bidang. Smartphone kebanyakan di produksi disana. Dijual di pasaran dengan harga murah, dengan kualitas lumayan. Kok bisa? Ya mungkin kita juga perlu belajar dari Cina. hehe
Dari ayat dan hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa hukum menuntut ilmu pada dasarnya adalah wajib/fardhu. Ada yang hukumnya fardhu ‘ain seperti menuntut ilmu agama, terutama yang berkaitan dengan ibadah kepada Allah seperti cara berwudhu, shalat, dan sebagainya. Ada pula yang hukumnya fardu kifayah, seperti ilmu-ilmu yang dibutuhkan untuk mendukung urusan-urusan dunia, seperti ilmu kedokteran karena ilmu ini menjadi sesuatu yang penting untuk memelihara tubuh, atau ilmu hitung karena ini menjadi sesuatu yang penting didalam muamalah (jual beli), pembagian wasiat, harta waris dan lainnya. Selain itu, hukum menuntut ilmu bisa berubah menjadi haram jika ilmu yang dipelajari dapat mendatangkan mudharat bagi diri sendiri maupun orang lain, atau menyesatkan dan membahayakan, seperti ilmu hitam, ilmu sihir, ilmu santet dan sebagainya.

Allah SWT juga akan mengangkat derajat orang-orang beriman dan berilmu sebagaimana firman-Nya dalam QS Al-Mujaadilah ayat 11:
11). يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُواإِذَاقِيلَلَكُمْتَفَسَّحُوافِيالْمَجَالِسِفَافْسَحُوايَفْسَحِاللَّهُلَكُمْۖوَإِذَاقِيلَانْشُزُوافَانْشُزُوايَرْفَعِاللَّهُالَّذِينَآمَنُوامِنْكُمْوَالَّذِينَأُوتُواالْعِلْمَدَرَجَاتٍۚوَاللَّهُبِمَاتَعْمَلُونَخَبِيرٌ

 

‘‘…..niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat……” (QS Al-Mujaadilah: 11)
Dari ayat tersebut, tersurat janji Allah untuk mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu, tak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah tentang kebahagiaan dunia akhirat yang dapat diperoleh dengan memiliki ilmu pengetahuan:
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِا لْعِلْمِ وَ مَنْ أَرَادَ الأخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِا لْعِلْمِ وَ مَنْ أَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِا لْعِلْمِ
“Siapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka harus dengan ilmu, siapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka harus dengan ilmu, dan siapa yang menginginkan (kebahagiaan) keduanya (dunia dan akhirat), maka harus dengan ilmu”
Pekerjaan menuntut ilmu merupakan ibadah. Orang yang menuntut ilmu akan diberikan pahala yang sangat besar dan dimudahkan baginya jalan menunju surga. Rasulullah Saw bersabda:

“Siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga” (HR Muslim)
Satu hal lagi yang harus diketahui, bahwa orang yang berilmu memiliki pendirian yang teguh, tidak mudah terombang-ambing, serta tidak mudah tergoda oleh bujukan syaitan. Bahkan dalam sabdanya Rasulullah menyebutkan bahwa seorang yang berilmu lebih sulit digoda oleh syaitan dari pada 1000 ahli ibadah yang tidak berilmu;

“Seorang yang alim lebih sulit digoda oleh syaitan dari pada 1000 ahli ibadah (yang tidak berilmu)” (HR. Tirmidzi)
Selanjutnya, yang tak kalah pentingnya untuk direnungkan adalah bahwa pada suatu saat nanti, yang kita tak ketahui kapan datangnya, entah hari ini, esok, lusa atau kapan saja Allah berkehendak, malaikat maut akan datang menjemput kita untuk menjalani kehidupan lain di alam berbeda. Ketika masa itu tiba, tak ada lagi yang dapat kita lakukan untuk menambah isi pundi-pundi pahala kita, terputuslah kita dari kehidupan dunia, kecuali 3 hal yaitu shadaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak sholeh yang selalu mendoakan, sebagaimana sabda Rasul;

“Jika anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya keculai 3 hal, yaitu shadaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak shaleh yang selalu mendoakan orang tuanya.” (HR Muslim) 
Hadits ini menunjukkan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai investasi masa depan. Dengan sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak soleh yang selalu mendoakan, kita tetap mendapat tambahan pahala meski kita tak lagi menjalani kehidupan di alam fana ini. Hadits ini juga menyiratkan perintah untuk ‘memanfaatkan’ ilmu yang kita miliki. Tak hanya sekedar mengetahui suatu ilmu, tetapi perlu pengamalan dalam kehidupan. Kata orang bijak ‘ilmu tanpa pengamalan ibarat pohon tanpa buah”. Ada pula yang menyebutkan, ilmu tanpa amal, pincang, dan amal tanpa ilmu, buta. Oleh karen aitu harus ada kesesuaian antara ilmu dan amal.
Selain mengamalkan ilmu yang kita miliki, kita juga diperintakan berbagi ilmu atau mengajarkan ilmu yang kita miliki kepada orang lain. Berbagi ilmu dengan orang lain tak sama dengan berbagi harta. Jika kita memberikan harta kita kepada orang lain, maka secara otomatis kita akan kehilangan harta itu atau dengan kata lain kita tak lagi memilikinya. Berbeda halnya dengan memberikan ilmu. Jika kita mengajarkan ilmu pengetahuan kepada orang lain, kita tidak akan kehilangan ilmu pengetahuan yang kita miliki, tetapi malah semakin menambah penguasaan kita terhadap ilmu tersebut.
Yang harus kita ingat adalah ilmu yang dimiliki hendaknya tidak membuat kita tinggi hati dan merasa lebih hebat dari orang lain. Niat menuntut ilmu hendaknya didasari keikhlasan karena Allah SWT. Orang yang menuntut ilmu dengan niat untuk membanggakannya di hadapan manusia diancam akan dimasukkan ke dalam neraka.

Ilmu pengetahuan berkembangan seiring dengan perkembangan zaman. Jika kita berhenti belajar, sementara ilmu pengetahuan semakin berkembang, maka kita akan tertinggal. Oleh karena itu, proses belajar manusia tak hanya berhenti ketika kita menyelesaikan studi di bangku pendidikan. Menuntut ilmu tak hanya dilakukan di bangku sekolah atau kuliah. Sejatinya, dunia ini adalah laboratorium pendidikan. Setiap elemennya adalah sarana untuk menambah wawasan dan mengambil pelajaran. Karena itulah, proses belajar manusia seharusnya berawal sejak manusia dilahirkan hingga kematian menjemput. Rasulullah SAW bersabda:

“Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat”

Hadits tersebut menjadi dasar dari ungkapan “Long life education” atau pendidikan seumur hidup. Berdasar dari hadits itu pula, kita seharusnya termotivasi agar tak pernah lelah untuk belajar. Kita niatkan perjuangan menuntut ilmu ini sebagai ibadah kepada Allah, dengan niat suatu hari kelak akan kita bagi kepada orang lain, agar ilmu yang kita miliki tak hanya bermanfaat buat diri kita, tetapi juga makhluk Allah yang lain.

Jangan pernah berhenti belajar hal-hal bermanfaat, selama kita masih diberi kesempatan oleh Allah. Dengan niat ikhlas kartena Allah, mudah-mudahan kita semua memperoleh keutamaan menuntut ilmu seperti yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Aamiin.

Sekian, mohon maaf atas segala khilaf.

Tulisan ini dikutip dari beberapa sumber untuk disampaikan sebagai reminder bagi penulis sendiri tentang apa yang harus dilakukan setelah wisuda dan pentingnya menuntut ilmu. Semoga Allah masih memberikan waktu dan rejeki bagi penulis untuk senantiasa menuntut ilmu.

Disampaikan pada LQ Prayan Circle, Kamis 3 April 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Sejuta Tutorial on Android
Ingin Berlangganan Artikel Saya
Quotes

sampaikanlah walau satu ayat | sampaikanlah ilmumu walau kau rasa tiada bermanfaat

yang kamu tau jangan kau simpan | sampaikan

takut salah? | salah sudah biasa | yg gak biasa | gak tau kalo yg kita tau itu salah

sampaikan utk dikoreksi | koreksi utk memperbaiki diri

gak perlu jadi ahli utk berbagi | gak perlu nunggu jadi guru baru mau berbagi ilmu

Belajarlah | menulislah | berkaryalah | berprestasilah | bergeraklah

Clock
Kalender
December 2016
M T W T F S S
« Jun    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
Blog Stats
  • 89,740 hits

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 259 other followers

%d bloggers like this: